#17 - ingatan
aftersun dari sisi si ayah
spoiler alert untuk film the boy and the heron, petite maman, everything everywhere all at once, dan aftersun
trigger warning untuk bunuh diri
hai kawan-kawan,
tahun depan aku akan menginjak umur yang sama ketika bapakku punya anak pertamanya, kakakku, untuk pertama kalinya.1 membandingkan apa yang telah beliau lakukan di usia itu ketimbang apa yang telah kulakukan di usia yang sama, mencabikurai perasaanku.
ada anekdot-anekdot yang sering diulang oleh bapak tentang semua anaknya di semua tahap kehidupan anaknya: kelahiran, usia setahun, balita, saat sd, dan seterusnya. kurang lebih untuk tiap-tiapnya masing-masing ada satu. dewasa ini, makin jarang terdengar cerita baru, seolah-olah memang hanya anekdot-anekdot itu yang lolos saringan waktu.2
teman-temanku lebih pandai mengungkapkan ini ketimbang aku, tapi kurang lebih mereka bilang bahwa diri kita saat ini adalah mozaik dari versi-versi kita sebelumnya.3 4 5 (ingatan → identitas.)
tapi sebenarnya hal yang sebaliknya juga bisa terjadi. siapa diri kita, seperti apa tabiat kita, menjadikan otak kita tebang pilih terhadap apa-apa saja yang boleh diingat. (identitas → ingatan.) dengan kata lain, kita memilih cerita apa yang ingin kita dengar, terlepas apa yang sebenarnya terjadi.
ada sepilihan film yang rilis berdekatan yang berkutat tentang hal ini, terutama dalam konteks hubungan orang tua dan anak.6

mulai dari kanan atas dan berlawanan arah jarum jam, the boy and the heron membayangkan masa lalu yang tidak jelas ketika sang ibu meninggal dalam kebakaran setelah melahirkan anak laki-lakinya. ada sejarah baru yang direkacipta dari kekosongan oleh sang anak.
di petite maman, sejarah sang ibu terungkap dalam pertemanan antara sang anak dan sang ibu. di kedua film, sang ibu tampil seumuran dengan sang anak. hal itu punya dampak memanusiakan—menganakkan—sang ibu sebagai seseorang yang juga pernah punya masa kecil sebelum dewasa. imajinasi ini punya daya penjelasan, dan seolah bisa menjawab mengapa sang ibu adalah orang dewasa dengan sifat seperti itu ketika dewasa.
bergeser ke everything everywhere all at once (eeaao), giat imajinasi ini berjalan paralel dengan laku kehidupan. multisemesta di film itu bisa diterjemahkan sebagai usaha sang anak untuk membayangkan ulang atau menafsirkan lagi realitas yang terjadi. semua tafsir yang ada berjalan paralel dengan kehidupan yang utama.
di aftersun tidak ada multisemesta. kita dihadapkan dengan dua sumber teks, rekaman camcorder dan ingatan manusia. kedua cerita itu berjalan paralel dan yang satu mengisi kekosongan dari yang lainnya. berbeda dengan the boy and the heron dan petit maman yang sejarahnya sepenuhnya dibayangkan, eeaao dan aftersun perlu menegosiasikan beberapa sumber teks sebelum menarik darinya kesimpulan—jika memang ada kesimpulannya.
di dua film terakhir itu, tafsir alternatif tampil sebagai keinginan tersembunyi untuk mengubah si orang tua agar tidak seperti keadaan sebelumnya saat status quo. di eeaao hal itu berhasil dan evelyn dan joy rujuk; di aftersun calum dan sophie tidak berakhir semanis itu.
tapi semua ini mengasumsikan bahwa film ini dibuat dari sudut pandang si anak: bahwa si orang tua bisa berubah, perubahan ini diukur relatif terhadap si anak. bagaimana jika sebenarnya aftersun adalah kenangan yang diputar ulang dari sudut pandang si bapak?

Perhaps memories of early years were never really meant for sons, for whom growing up requires a kind of forgetting. Perhaps they are really for fathers, to wrap ourselves in when our sons begin that long, slow fade into adulthood.
— Ariel Sabar, A Time to Put Aside the Armor
aku ingat ada kutipan dari artikel modern love new york times yang selalu terngiang sejak pertama kali aku mendengarnya. setelah menonton aftersun, kutipan itu, kutipan di atas, muncul lagi ke permukaan.
film itu dibuka dengan rekaman camcorder dan diakhiri dengan si bapak memegangnya—bukannya tidak mungkin bahwa film itu memang sebenarnya adalah tentang ingatan bapak.
ketika menutup camcorder di bagian terakhir, sorotan kamera pertama terpaut pada sophie kecil yang berangkat pergi dan bergeser pelan ke calum yang berjalan pulang. melihat sophie dewasa bisa jadi adalah harapan calum kedua terakhir. harapan calum terakhir: masuk ke ruang rave dan tidak keluar lagi.
sebagaimana semua orang tua, sering kita lihat calum berusaha memberikan yang terbaik kepada sophie, lebih dari apa yang ia berikan ke diri sendiri (sampai-sampai sophie berkata “stop doing that. offering to pay for something when I know you don’t have the money.”) tapi overcompensation ini bisa dimaklumi mengingat masa lalu calum yang terlalu padat dan masa depannya yang kelewat tipis.7
di antara dua titik itu, masa kini adalah koridor aneh yang sepi. seperti penonton film yang meninggalkan bioskop dengan sensasi melayang untuk kembali ke dunia nyata yang terasa maya, calum menutup layar camcorder untuk kembali kepada kehidupannya yang lebih aneh daripada rekaan.8
aku bisa bersimpati. luntang-lantung di antara optimisme dan paranoia pergi ke kota baru. mengucapkan aku sayang kamu kepada mantan istri yang telah berpisah. menangis sesenggukan justru setelah menerima ucapan selamat dari nyanyian anak dan sekumpulan orang asing baik. aku bisa bersimpati kepada calum.
mungkin aftersun memang ingatan calum, bukan ingatan sophie. lebih masuk akal, mengingat juga ada hal-hal yang ditangkap kamera, yang tidak mungkin dilihat sophie, seperti ketika calum di kamar mandi, ketika calum pergi ke pantai, ketika calum menangis. sedangkan semua yang dilakukan sophie ketika sendiri, semuanya diceritakan kepada calum.
mungkin ingatan calum ini adalah rasa cinta saat di saat-saat terakhir di ujung kerongkongan. rekaman camcorder calum adalah bara api yang menghangatkan ketika ia berjalan di koridor sepi dan dingin, menjauhi sophie yang pergi di masa lalu dan menuju sophie yang ia harapkan akan menyelamatkannya di masa depan.
setidaknya calum pergi dengan mengetahui bahwa saat yang telah lalu itu bukan dansa terakhirnya dengan sophie. bukan hanya mereka yang hidup yang membutuhkan penghiburan.9
So now I am older / Than my mother and father / When they had their daughter / Now what does that say about me?
— Fleet Foxes, Montezuma
aku pun tidak terbebas dari dosa ini—seperti kaset rusak aku berulang menulis tentang ingatan di #2, peringatan (“ingatan menjaga kita agar tidak mengulangi masa lalu. lupa memberikan kita kesempatan untuk tidak selalu berada di sana”) dan di #15, kolaps (“melalui empati ingatan tidak mesti diberikan tanda titik, melainkan bisa diteruskan melalui cerita baru”). terima kasih atas kesabaran pembaca.
I’d like to think that even though the train keeps going, all of the people we’ve ever been come along with us for the ride.
— Haikal Satria, the train's not stopping
Maybe 25 is just a remix of all the versions of myself I’ve been so far.
— Olive Hateem, a constellation of friends
i can be everything. i am a little bit of everything from my previous versions.
— Firnita, living in multiple time frames
emily st. james, jurnalis vox, menyebut adanya genre film the millennial parental apology fantasy yang film-filmnya rilis berdekatan di sekitar 2020-an. yang menjadi tersangka: everything everywhere all at once, turning red, dan the mitchells vs. the machines. james berargumen bahwa daya pikat film-film ini adalah dalam membayangkan bahwa (1) orang tua menjadi mereka yang minta maaf pada si anak dan (2) permintaan maaf itu bisa menyembuhkan semua luka derita warisan antargenerasi.
I note that I’ve lived longer in the past, now, that I can expect to live in the future. I have more to remember than I have to look forward to. Memory fades, not much of the past stays, and I wouldn’t mind forgetting a lot more of it.
— Denis Johsnon, The Largesse of the Sea Maiden, cerpen dalam buku berjudul sama
To possess the world in the form of images is, precisely, to reexperience the unreality and remoteness of the real.
— Susan Sontag, The Image-World, esai dalam On Photography
dalam agama islam, doa kepada orang tua dan doa kepada jenazah dimulai dengan awalan yang sama, “allahummaghfir,” yang artinya, ya allah ampunilah.



Absolutely loving this essay. You have a penchant of careful thought and ability to express it in Indonesian. Feels like being beside you, carefully unravelling a thought to the finish.
And quoting your friends substack in the footnotes 😊🙂↕️ —can’t wait to read more, Hanif